Sumber berita: KOMPAS, NO 036 THN KAMIS 02 AGUSTUS 2018

Sumber foto: tabloidpulsa.co.id

Segmen Bawah Jadi Target Pasar

INDUSTRI PONSEL

JAKARTA, KOMPAS - Telepon seluler pintar kategori segmen bawah atau kisaran harga Rp 2 juta mendominasi pasar Indonesia. Penggunanya tumbuh dari kabupaten dan kota kecil.

Menurut Associate Market Analyst International Data Corporation Indonesia (IDC) Risky Febrian di Jakarta, Rabu (1/8/2018), situasi itu mendorong produsen bersaing ketat mengembangkan ponsel untuk segmen bawah. Tren yang berkembang adalah ponsel pintar dengan spesifikasi teknologi canggih dapat dibeli dengan harga terjangkau.

Produsen asal China, Xiaomi, diduga memicu persaingan ketat melalui peluncuran seri Redmi 5A. Produsen lain berlomba mempertahankan pangsa pasar mereka. ’’Dari sisi industri, produsen kesulitan bermain di segmen bawah karena margin cenderung rendah. Akibatnya, mereka susah belanja pemasaran, iklan, hingga insentif penjualan. Namun, segmen bawah Indonesia adalah target potensial,” ujarnya.

Laporan IDC Worldwide Quarterly Mobile Phone Tracker, seperti dikutip Bloomberg (1 Agustus 2018), Huawei Technologies Co berada di urutan kedua pengiriman ponsel pintar secara global pada triwulan 11-2018. Sebelumnya urutan kedua ditempati Apple Inc. Sementara Samsung Electronics Co ada di peringkat pertama.

Huawei mengirim 54,2 juta up i t ponsel pintar atau tumbuh 41 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2017. Persentase pangsa pasar perusahaan ini di dunia mencapai 16 persen. Laporan itu juga menyebut produsen asal China lainnya, yakni Xiaomi Corp dan Oppo,melengkapi lima besar penguasa pasar global triwulan II-2018.

DirekturStandardisasi Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Mochamad Hadiyana menyatakan, pemerintah mendorong implementasi produksi dalam negeri melalui tingkat kandungan komponen dalam negeri (TKDN) perangkat, termasuk ponsel pintar.

Data Kementerian Perindustrian menyebutkan, impor ponsel mencapai 62 juta unit dan produksi dalam negeri 105.000 unit tahun 2013. Setelah kebijakan TKDN terbit, impor turun jadi 37 juta unit tahun 2015, lalu 18,5 juta unit tahun 2016, dan 11,4 juta unit tahun 2017. Sementara produksi dalam negeri berfluktuasi, yakni 50 juta unit (2015), 68 juta unit (2016), dan 60,5 juta unit (2017). (MED)

 

menu
menu