Sumber berita: KOMPAS. N0 53 THN-54 SENIN 20 AGUSTUS 2018

Sumber foto: Infobanknews.com

Sektor Riil Jadi Andalan

Investasi sektor riil jadi andalan penyerapan tenaga kerja. Namun, jumlahnya belum sebanding dengan kebutuhan.

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah dan pelaku usaha dinilai perlu meningkatkan sinergi untuk untuk menjaga pertumbuhan dan keberlanjutan investasi. Hal ini penting karena investasi di sektor riil menjadi andalan dalam penyerapan tenaga keija di Tanah Air.

’’Dalam menyusun kebijakan, kami mengajak pelaku memberi masukan. Hal seperti ini penting agar industri tumbuh, investasi bertambah dan berkelanjutan,” kata Sekretaris Jenderal Kemen- terian Perindustrian (Kemenpe- rin) Haris Munandar di Jakarta, pekan lalu.

Kemenperin mencatat, jumlah tenaga keija yang bekerja di sektor industri bertambah dari 13,82 juta orang pada tahun 2010 menjadi 17,5 juta orang pada tahun 2017.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA) selama triwulan 11-2018 mencapai Rp 176,3 triliun. Realisasi itu meningkat 3,1 persen jika dibandingkan dengan periode sama tahun 2017 yang Rp 170,9 triliun.

Deputi Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM Azhar Lubis, beberapa waktu lalu, mengatakan, penyerapan tenaga kerja sebagai dampak langsung realisasi investasi baru pada triwulan 11-2018 mencapai 289.843 orang. Rinciannya, penyerapan tenaga keija di proyek-proyek PMDN 133.602 orang dan di proyek PMA 156.241 orang.

Penyerapan tenaga keija baru pada triwulan 11-2018 lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan 1-2018 yang 201.239 orang. Namun, turun jika dibandingkan dengan triwulan 11-2017 yang tercatat 345.323 orang. Jumlah tenaga keija baru yang terserap selama semester 1-2018 tercatat 491.082 orang atau lebih rendah dibandingkan dengan semester 1-2017 yang sebanyak 539.457 orang.

Belum sebanding
Secara terpisah, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, penciptaan lapangan kerja baru merupakan salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia. Jumlah tenaga kerja yang terserap tidak sebanding dengan tambahan tenaga keija setiap tahun yang berkisar 1,8 juta-2 juta orang.

’’Kami terus memberi masukan kepada pemerintah bahwa nomor satu yang harus kita semua lakukan adalah penciptaan lapangan keija baru,” ujar Rosan.

Pertumbuhan ekonomi yang sekitar 5 persen dinilai tidak cukup untuk menyerap tambahan tenaga keija setiap tahun. Kadin Indonesia melihat bahwa sekitar separuh dari jumlah tenaga keija Indonesia, yang 132 juta orang, berpendidikan sekolah dasar. Tenaga keija berpendidikan perguruan tinggi hanya 12-13 persen dari jumlah itu.

Terkait hal itu Kadin Indonesia berharap agar pendidikan lebih dibuka. ’’Memang sekarang sudah ada pendidikan vokasi, pendidikan, dan pelatihan. Namun, kita perlu membuka lebih dalam untuk menerima universitas asing. Kemudian level SMP dan SMA juga harus lebih terbuka,” kata Rosan.

Peningkatan produktivitas dan daya saing menjadi kunci memperkuat dunia usaha Pembenahan di berbagai aspek, termasuk di sisi regulasi, diperlukan agar pertumbuhan investasi dan ekonomi semakin baik.

’’Revisi daftar negatif investasi, tingkat kemudahan memulai bisnis, semua ini positif. Namun, pergerakan menjadi lama ketika masih banyak kendala, misalnya, dari sisi regulasi, kebijakan, kadang undang-undang yang harus diperbaiki,” kata Rosan.

Secara alami, kata Rosan, suatu negara tidak boleh terlalu bergantung pada komoditas. Peningkatan kegiatan manufaktur dibutuhkan untuk mengatasi ketergantungan tersebut. (CAS)

 

menu
menu