Sumber berita: KOMPAS, NO 328 THN 53, SENIN 4 JUNI 2018

Sumber foto: KOMPAS, NO 328 THN 53, SENIN 4 JUNI 2018

Sekutu Kecam Langkah AS

Penjelasan atas sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump ditunggu oleh para sekutunya pada Pertemuan Tingkat Tinggi G-7 di Quebec, Kanada, pekan ini.

QUEBEC, SABTU - Kritik keras disampaikan oleh para menteri keuangan negara-negara anggota G-7 atas pilihan dan langkah proteksionisme Amerika Serikat. Mereka mendesak pemerintahan Donald Trump untuk membatalkan penerapan tarif impor baja dan aluminium terhadap para sekutunya.

G-7 merupakan kelompok tujuh negara dengan perekonomian paling maju di dunia Selain AS, anggota G7 ialah Jerman, Perancis, Italia, Inggris, Jepang, dan Kanada.

Dalam pertemuan tingkat menteri G-7 di Quebec, Kanada, Sabtu 12/6/2018) lalu, satu demi

satu para menteri keuangan dan gubernur bank sentral mengungkapkan kekesalan dan perasaan terkhianati oleh AS sebagai sekutu lama Di luar forum, pemerintah negara-negara itu mengumumkan tindakan balasan dan upaya hukum atas tindakan Washington.

 

Kondisi itu menjadikan posisi Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin tampak terisolasi. Namun, ia bergeming dan mengatakan, AS berkomitmen dengan proses yang disepakati dan dihidupi oleh forum G-7.

Menteri Keuangan Kanada Bill Momeau menyatakan, tuan rumah dan lima negara lain telah menyampaikan keprihatinan serta kekecewaan. Mereka mendesak hal itu disampaikan Mnuchin kepada Trump.

’’Kami mengatakan bahwa secara kolektif berharap dia akan membawa pesan penyesalan dan kekecewaan pada tindakan Amerika,” ucap Momeau.

Menteri Keuangan Perancis Bruno Le Maire juga menyatakan kemarahan Perancis saat pertemuan berakhir. ’’Saya ingin mempeijelasnya bahwa terserah Pemerintah AS untuk membuat keputusan yang tepat guna meringankan situasi dan mengurangi kesulitan,” ujarnya

 

Menteri Keuangan Jerman Olaf Scholz mengatakan kepada wartawan bahwa tarif AS adalah masalah yang sangat parah bagi hubungan trans-Atlantik ’’Tidak ada yang mengerti bahwa karena alasan keamanan harus ada tarif tambahan untuk baja dan aluminium,” ujarnya

Tarif Trump kepada para produsen terbesar bagi AS yang juga sekutu-sekutu Washington mulai berlaku Jumat lalu. Langkah itu membalikkan agenda dalam acara G-7 yang biasanya ramah untuk membangun konsensus di antara negara-negara dengan produk domestik bruto (PDB) sekitar setengah dari PDB global itu.

Tidak ada pernyataan akhir gabungan dari pertemuan tingkat menteri G-7 di Quebec. Hal ini menunjukkan adanya perselisihan yang kuat di jantung ekonomi global. Sikap dan bagaimana Gedung Putih akan menanganinya sejauh ini juga tetap tidak jelas.

 

Ketika pertemuan para menteri berakhir, Trump bergeming. Seperti yang sudah-sudah, melalui media sosial Twitter, ia mengecam praktik perdagangan yang menurut dia bodoh.

’’Ketika perdagangan Anda minus hampir 800 miliar dollar AS per tahun, Anda tidak boleh kalah dalam perang dagang! AS telah ditipu oleh negara-negara lain selama bertahun-tahun, saatnya untuk menjadi cerdas!” tulis Trump.

China memperingatkan

Di Bejing, Pemerintah China memperingatkan AS bahwa setiap kesepakatan yang dicapai selama pembicaraan perdagangan antara kedua negara akan batal jika Washington melanjutkan pengenaan tarif pada barang-barang China Peringatan itu disampaikan Beijing seusai putaran negosiasi terakhir pada Minggu (3/6).

Pembicaraan perdagangan pu
taran ketiga antara Beijing dan Washington itu tampaknya gagal menjembatani kesenjangan di antara mereka. ’’Jika AS menerapkan sanksi perdagangan, termasuk kenaikan tarif, semua pencapaian ekonomi dan perdagangan yang dinegosiasikan oleh kedua pihak sejauh ini akan batal,” ungkap pernyataan Pemerintah China yang disampaikan kantor berita Xinhua

Negosiasi di Beijing, yang dipimpin oleh Menteri Perdagangan AS* Wilbur Ross dan Wakil Perdana Menteri China Liu He, bertujuan meredakan ketegangan setelah Washington mengatakan akan menindaklanjuti kebijakan tarif impor.

Washington meminta China meningkatkan impor pertanian dan energi dari AS, sedangkan Beijing mengatakan, kemajuan yang positif dan konkret tengah dibicarakan kedua pihak secara saksama

(AFP/REUTERS/BEN

menu
menu