Sumber berita: REPUBLIKA, NO 143 THN 26, RABU 6 JUNI 2018

Sumber foto: REPUBLIKA, NO 143 THN 26, RABU 6 JUNI 2018

Serapan Beras Rendah

MELISARISKA PUTRI

DEBBIE SUTRISNO

Bulog sulit menyerap beras karena fleksibilitas HPP dicabut.

JAKARTA — Jumlah serapan beras petani oleh Perum Bulog belum optimal. Per Senin (4/6), jumlah serapan tercatat 896 ribu ton dari target tiga juta ton hingga akhir tahun. Jika dipersentasekan, tingkat serapan beras baru mencapai 29,8 persen dari target.

Direktur Pengadaan Perum Bulog Andrianto Wahyu Adi mengakui, serapan beras Bulog tersebut paling rendah dalam tiga tahun terakhir. Bulog tak bisa menyerap secara maksimal karena harga gabah tinggi, yakni sekitar Rp 4.500 per kg hingga Rp 4.600 per kg.

"Sedangkan, beras yang kami beli Rp 8.030 di petani atau pertanian mungkin Rp 8.200," katanya usai menghadiri rapat koordinasi di kantor Kementerian Pertanian (Kemen- tan), Selasa (5/6).

Menurutnya, harga gabah tinggi karena kualitas yang dihasilkan tahun ini lebih bagus dibandingkan tahun lalu. Selain itu, Bulog kesulitan menyerap gabah dengan harga tinggi karena harga pembelian pemerintah (HPP) fleksibilitas sudah dicabut. Sehingga, acuan pembelian hanya sebesar Rp 3.700 per kg GKP (gabah kering panen). Padahul, dengan adanya fleksibilitas, Bulog bisa lebih lentur menyerap hasil panen para petani dengan harga yang menarik.

Stok beras di gudang Bulog mencapai 1,49 juta ton per Senin (4/6). Sebanyak 800 ribu ton merupakan hasil pengadaan dalam negeri dan
190 ribu ton beras komersial. "Kemudian, impor 500 ribu ton," kata dia.

Menanggapi harga di tingkat petani yang tinggi, Ketua Komisi IV DPR RI Edhy Prabowo menilai, perlu adanya revisi HPP. Tapi, ia meminta pemerintah untuk mematangkan dulu revisi tersebut karena dampaknya bisa merugikan konsumen. "Kelompok tani minta naik. Tapi, intinya harus dikaji dengan matang," katanya.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, Kementan menargetkan serapan gabah hingga 20 ribu ton per hari. Saat ini, rata-rata serapan gabah sebesar 14 ribu ton per hari. "Tapi, kemarin bisa mencapai 18 ribu ton, luar biasa," kata Amran.

Amran mengatakan, harga gabah di tingkat petani dalam kondisi baik di angka Rp 3.800 per kg GKG hingga Rp 4.500 per kg GKG. Kementan akan berupaya menekan biaya dan meningkatkan jumlah produksi agar petani bisu semakin meraih keuntungan dari hasil panennya.

"Kalau produksi naik dua kali lipat, berarti ini menekan biaya produksi,” katanya.

Biaya produksi ditekan dengan menggunakan bibit unggul, alat mesin pertanian, dan meningkatkan in-Rp 4.500 per kg-Rp 4.600 per kg

Harga pembelian
pemerintah:

Rp 3.700 per kg

Kementan menargetkan serapan gabah hingga 20 ribu ton per hari.

deks pertanaman. Tiga cara tersebut dianggap aling efektif dalam meningkatkan kesejahterahun petani. "Sebanyak 350 alsintan sudah kita sebar. Kalau ini bergerak, bisa tercapai target. Kami yakin, yang dulunya dengan manual sekarang dengan modernisasi mekanisasi, sehingga produktivitas tinggi," kala dia.

Penambahan luas tanam juga terus dilakukan. Kementan berharap, produksi luas tanam bisa bertambah lima persen tahun ini.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan, Bulog terus memonitor pergerakan harga beras
di sejumlah daerah. Sebab, harga beras bisa saja melonjak di daerah seiring banyaknya masyarakat yang mudik ke kampung halaman.

Pria yang akrab disapa Buwas itu menambahkan, dirinya juga terus memantau penyerapan beras dari petani untuk stok di setiap gudang. "Jadi, ketika harga melambung dan tidak terkendali, Bulog bisa langsung melakukan stabilisasi dengan beras yang telah dipersiapkan," kata Buwas seusai menghadiri rapat mengenai pangan di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (5/6).

Menjelang Lebaran, Bulog akan merealisasikah rencananya untuk menjual beras saset ukuran 200 gram. Buwas mengatakan, beras tersebut akan dijual di warung dan toko ritel. Beras saset menggunakan beras lokal yang ada di setiap divisi regional Bulog.

"Mudah-mudahan, sebelum Lebaran (bisa dijual), tapi saya cek dulu," ujar Buwas.

Buwas tidak menampik ada kesulitan membuat program beras saset berjalan serentak. Sebab, harus ada kesamaan kemasan, mulai dari ukuran hingga kesiapan beras di daerah. Karena, ketersediaan beras dengan jenis' tertentu tidak bisa sama di semua divre Bulog.

Buwas akan menyambut baik apabila ada pelaku usaha beras yang juga ingin menjual beras kemasan 200 gram. Tujuannya, agar semua kalangan masyarakat bisa dengan mudah mendapatkan beras.

Beras saschet 200 gram menggunakan beras premium. Harganya dipatok sekitar Rp 2.500. Jumlah beras dalam saset ini diprediksi bisa dibuat untuk tiga piring makan. "Ke depan, kami bicara yang medium. Yang penting jangan sampai ada komplain berasnya jelek," ujar Buwas.

■ ed: satria karfika yudha

menu
menu