Sumber berita: KOMPAS, NO 012 THN 54, SENIN 09 JULI 2018

Sumber foto: Kompas.id

Siswa SD Diajak Riset Lingkungan

Finalis Olimpiade Sains Kuark 2018 diajak membuat proyek riset mini mengenai pembahan iklim. Cara ini bertujuan agar siswa sejak dini akrab dan mencari solusi atas persoalan lingkungan di sekitarnya.

Siswa SD diajak untuk memahami perubahan iklim dan melakukan aksi yang didasari riset berlandaskan sains di babak Final Olimpiade Sains Kuark atau OSK 2018 di Tangerang Selatan, Banten, mulai Sabtu (7/7/2018) hingga Minggu (8/7). Isu perubahan iklim yang menjadi tantangan global saat ini perlu didukung dengan aksi nyata perilaku hidup sehari-hari dan juga penguasaan sains untuk mencari solusi yang ramah lingkungan.

Sebanyak 300 siswa kelas I-VI SD/MI dari 128 kota/kabupaten tersaring menjadi finalis OSK 2018 dari sekitar 93.000 peserta.

Penyelenggaraan OSK yang memasuki tahun ke-12 ini untuk membangun kecintaan pada sains sejak dini.

Direktur PT Kuark Internasional Sanny Djohan mengatakan, siswa tidak sekadar datang untuk mengikuti babak final (ujian tulis dan eksperimen), tetapi juga diajak untuk membawa proyek riset mini mengenai perubahan iklim dengan tema ’’Aksiku untuk Bumiku”. Ada 83 anak dari seluruh finalis yang membuat riset soal perubahan iklim. Kegiatan ini untuk menginspirasi anak- anak lainnya untuk berperan aktif menanggulangi dampak pembahan iklim di lingkungan.

’’Kemauan dan semangat para finalis OSK 2018 untuk mempelajari isu-isu lingkungan yang terjadi di sekitar mereka serta melakukan studi untuk mencari pemecahannya sangat layak diapresiasi,” ujar Sanny.

Kreativitas
Kreativitas siswa dalam mencari solusi praktis dalam upaya pengendalian perubahan iklim bermunculan. Ada riset mengenai energi alternatif ramah lingkungan dengan membuat briket dari limbah cangkang kelapa sawit ataupun membuat bi- oetanol dari pisang. Upaya un- tuk memanfaatkan matahari dan angin sebagai energi alternatif juga muncul dalam beragam bentuk.

Yosefa Kristania Larasati, siswa kelas IV SD Wijaya Kusuma, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, tinggal di daerah perkebunan sawit. Dia melakukan riset untuk memanfaatkan cangkang kelapa sawit menjadi briket. ’’Dari hasil briket cangkang kelapa sawit yang dibuat, ternyata kadar airnya rendah. Briket jadi mudah terbakar dan tahan lama, serta sedikit menghasilkan jelaga,” kata Yosefa.

Sementara itu, Keiv/1 Gerrado, siswa kelas II SD Calmya Nur, di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, melakukan riset terhadap sampah plastik. Dari hasil surveinya di lingkungan sekolah dan pasar, ternyata jenis sampah plastik paling banyak ditemui.

Berdasarkan temuannya itu, Kenzi menawarkan solusi yang sederhana. Dia mengampanyekan dibuang sayang untuk sampah plastik. "Kantong plastik, kan, bisa dipakai berulang. Ini solusi mudah untuk mengurangi jumlah sampah plastik terbuang,” kata Kenzi.

Ketua Yayasan Peduli Bumi Bangsa Ananda Mustadjab Latif mengatakan, kreativitas siswa SD melalui Aksiku untuk Bumiku sebagai upaya mencari solusi praklis dalam pengendalian perubahan iklim ini bisa dicontoh. ’’Anak-anak bisa diajak untuk mengenali persoalan lingkungan sekaligus solusi yang dilakukan sejak dini, dimulai dari lingkungan rumah dan sekolah seperti yang dilakukan siswa SD yang jadi finalis OSK 2018,” katanya.

Dalam kunjungan finalis OSK 2018 ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber daya Manusia Helmi Basalamah mengatakan, persoalan lingkungan dirasakan oleh semua kalangan umur, termasuk anak-anak sekolah. Perubahan iklim dapat mengganggu aktivitas mereka. (ELN)

 

menu
menu