Sumber berita: KOMPAS, NO 021 THN 54, RABU 18 JULI 2018

Sumber foto: PressReader kompas, INFOGRAFIK: KARINA

Subsidi Mesti Transparan

Subsidi energi tahun ini ditambah Rp 69 triliun menjadi Rp 163,5 triliun. Pemerintah beralasan, subsidi ditambah untuk menjaga daya beli masyarakat.

JAKARTA, KOMPAS - Pemerintah berencana menambah subsidi energi untuk bahan bakar minyak dan listrik tanpa mengubah APBN 2018. Tambahan subsidi energi senilai total Rp 163,5 triliun itu akan dialokasikan dari belanja non-kementerian dan lembaga Subsidi energi tersebut meningkat Rp 69 triliun atau 73 persen dari semula Rp 94,5 triliun menjadi Rp 163,5 triliun.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, subsidi mendesak ditambah karena harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dalam asumsi dasar makro APBN 2018 jauh dari kondisi riil saat ini.

Dalam asumsi makro APBN 2018, nilai tukar rupiah Rp 13.400 per dollar AS. Sementara harga minyak diasumsikan 48 dollar AS per barrel. Adapun realisasi subsidi energi pada semester 1-2018 sebesar Rp 59,5 triliun.

’’Keputusan menambah subsidi energi ini untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional,” kata Sri Mulyani seusai rapat bersama Badan Anggaran DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (17/7/2018). Rapat juga dihadiri Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityas- wara.

Secara terpisah, pengajar pada Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti, Jakarta, Pri Agung Rakhmanto, mengatakan, pemerintah harus memetakan secara jelas sumber subsidi energi tanpa APBN Perubahan. Mekanisme tersebut harus transparan agar tidak ber-

dampak negatif di masa depan. Pemerintah juga mesti konsisten soal kebijakan harga BBM yang sudah disusun. Pri Agung menambahkan, pertimbangan politik untuk tidak mengubah APBN 2018 mestinya tidak mengesampingkan faktor fundamen yang memengaruhi penentuan harga jual BBM, yakni nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan harga minyak dunia.

Harga minyak mentah dunia, mengutip laman Bloomberg, Selasa malam, 67,44 dollar AS per barrel untuk jenis WTI dan 72,03 dollar AS per barrel untuk jenis Brent.
Adapun nilai tukar rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta
Interbank Spot Dollar Rate, Selasa, Rp 14.391 per dollar AS.

Tarif listrik tidak naik
Pemerintah memutuskan tidak menaikkan tarif listrik hingga akhir 2019. Konsekuensi dari keputusan itu, pemerintah harus menambah subsidi kepada PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) yang juga dibebani target meningkatkan rasio elektrifikasi. Pada 2018, target rasio elektrifikasi 97,5 persen dan 99 persen tahun 2019.

Tambahan subsidi telah disepakati Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero).
Total alokasi subsidi energi yang sebesar Rp 163,5 persen itu terdiri dari subsidi untuk bahan bakar minyak (BBM) Rp 103,48 triliun dan listrik Rp 59,99 triliun. Kendati tambahan subsidi telah diputuskan, pemerintah belum merinci secara detail sumber pembiayaan subsidi.

’’Pemerintah sudah mempertimbangkan kenaikan subsidi BBM dan listrik yang akan disampaikan dalam rapat bersama Komisi VII,” kata Sri Mulyani.
Dalam rapat juga dipaparkan mengenai pendapatan negara tahun 2018 yang diperkirakan lebih tinggi 8,3 triliun dari target awal sebesar Rp 1.894,7 triliun. Pendapatan tambahan itu bersumber dari penerimaan negara bukan pajak dan "KibaR. Sementara realisasi belanja negara diperkirakan lebih rendah Rp 3,4 triliun.

Mekanisme subsidi
Wakil Ketua Komisi VII DPR dari Partai Demokrat Herman Khaeron mengatakan, penambahan subsidi energi semestinya melalui mekanisme APBN Perubahan. Apalagi, perubahan besaran subsidi tersebut muncul akibat perubahan asumsi makro, seperti harga minyak Indonesia yang tahun ini dipatok 48 dollar AS per barrel dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang saat ini sudah tidak relevan lagi.

’’Kecuali dana cadangan fiskal di APBN, mencukupi (bisa dilakukan penambahan subsidi tanpa APBN Perubahan),” kata Herman.
Dalam paparan proyeksi 2018, Sri mengatakan, pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan 5,2 persen atau lebih rendah dari asumsi makro 5,4 persen. Inflasi terjaga pada 3,5 persen dengan rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar AS Rp 13.973 dan harga minyak dunia 70 dolar AS per barrel. Produk domestik bruto pada 2018 diperkirakan Rp 14.795,7 triliun.

Mirza menambahkan, fundamen perekonomian dalam negeri cukup kuat untuk menghadapi ketidakpastian global. Stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tetap jadi fokus kebijakan BI melalui kebijakan peningkatan suku bunga atau intervensi ganda di pasar valuta asing dan surat berharga negara.
(KRN/APO)

menu
menu