Sumber berita: KOMPAS. N0 43 THN-54 KAMIS 09 AGUSTUS 2018

Sumber foto: ilustasi | karawangbekasiekspres.co.id

Sungai Kering, Ribuan Warga Terpaksa Beli Air

BEKASI, KOMPAS - Memasuki musim kemarau, ribuan warga di tiga desa di Kecamatan Ci- barusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, kembali mengalami kekeringan. Selain mengandalkan kiriman air dengan truk tangki yang terbatas, warga terpaksa mengeluarkan dana tambahan untuk membeli air bersih. Aliran air dari PDAM menjadi harapan untuk menyelesaikan masalah tahunan ini.

Camat Cibarusah Enop Can, Rabu (8/8/2018), di Bekasi, mengatakan, kekeringan merupakan kejadian berulang setiap tahun. Tahun ini, laporan dampak kekeringan mulai masuk pada akhir Juli 2018. Tercatat 1.498 warga Desa Sinaijati, 4.885 warga Desa Ridogalih, dan sekitar 3.000 warga Desa Rido- manah kesulitan air bersih. ’’Jumlah warga terdampak masih akan bertambah jika kemarau berlanjut,”

Kepala Seksi Ketenteraman dan Ketertiban Kecamatan Cibarusah Imam Arachman mengatakan, kekeringan terjadi karena tanah Cibarusah tidak dapat menyimpan air karena lebih banyak mengandung batu. Pengeboran untuk mencari mata air beberapa kali dilakukan, bahkan hingga kedalaman 150 meter. Akan tetapi, mata air tetap tidak ditemukan.
Untuk mengatasi kesulitan air bersih, pihak kecamatan mengajukan pengiriman air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi. Namun, kiriman air bersih dari BPBD belum memenuhi kebutuhan seluruh warga ’’Pengiriman air tidak bisa dilakukan setiap hari karena keterbatasan jumlah truk tangki,” kata Imam.

Akses truk tangki juga terhambat karena rusaknya Jembatan Cipamingkis yang merupakan akses utama menuju ke ketiga desa itu. Lahan sepanjang 50 meter sebelum memasuki jembatan ambles. Lebar tanah yang tersisa hanya bisa dilewati sepeda motor.
Bupati Bekasi Neneng Ha- sanah Yasin mengatakan, pengiriman air menggunakan truk tangki merupakan satu-satunya langkah yang bisa diterapkan saat ini. ”Ke depan, kami ingin membuat saluran perusahaan daerah air minum (PDAM) ke Cibarusah,” ujarnya.

Beberapa infrastruktur untuk mengatasi kekeringan yang dibangun pemerintah tidak berfungsi optimal. Salah satunya bak beton penampung air yang dibangun di setiap desa Di Desa Ridomanah, bak itu tidak bisa digunakan sejak dibangun pada 2016. ’’Bak itu bocor dan tidak pernah diperbaiki meski sudah beberapa kali kami laporkan,” ujar anggota Badan Permusyawaratan, Desa (BPD) Ridoma- nah, Mamun Nawawi (43).

Air dari PDAM juga belum kunjung mengalir ke tiga desa tersebut. Padahal, sentral pipa untuk mengalirkan air ke rumah-rumah sudah dipasang sejak dua tahun lalu.
Mamun berharap, aliran air PDAM bisa segera terealisasi. Air PDAM terbukti mampu mengatasi kekeringan di Desa Sukamahi, Cikarang Pusat, tempat Kompleks Pemerintah Kabupaten Bekasi. Jarak kompleks tersebut dengan Kecamatan Ci barusah sekitar 14 kilometer.
Selain berdekatan dengan kantor pemerintah, Kecamatan Cibarusah terletak sekitar 16 kilometer dari Kota Deltamas dan 20 kilometer dari Meikarta.

Tidak teratasi
Mamun menambahkan, kekeringan teijadi sejak Januari 2018. Namun, saat itu, kondisi belum parah karena warga bisa memanfaatkan air Kali Cipamingkis untuk mandi, mencuci, dan keperluan lain. Sejak dua bulan lalu, kali yang juga mengalir di Kabupaten Bogor itu mengering.

Di beberapa bagian Kali Cipamingkis terdapat kubangan air sekitar 30 sentimeter. Kubangan dimanfaatkan warga untuk mandi, mencuci piring, hingga mencuci beras.
Warga datang beramai-ramai ke kubangan Kali Cipamingkis pada pukul 06.00 dan pukul 15.00 membawa jeriken. Ada yang memikulnya, ada pula yang membawa jeriken dengan sepeda motor. Jarak rata-rata yang mereka tempuh sekitar 1,5 kilometer dengan kondisi jalan berbukit-bukit.
Untuk memasak dan minum, mereka membeli air mineral isi ulang seharga Rp 6.000 per galon isi 18 liter.

Menurut Mamun, kondisi itu selalu berulang setiap tahun. Sejak lahir di Cibarusah pada 1975, kekeringan menjadi bagian hidupnya. ’’Masalah itu tidak pernah teratasi hingga saat ini.”
Herman (36), warga Ridomanah, mengatakan, kekeringan terparah teijadi pada 1997. Saat itu, musim kemarau berlangsung sembilan bulan.

Gagal panen
Kekeringan juga menyebabkan gagal panen. Kepala Desa Ridomanah Saep Karwita mengatakan, dari total luas desanya, yaitu 475 hektar, lahan seluas 400 hektar merupakan areal persawahan. ’’Semuanya gagal panen,” ujar Saep.

Sawah terlihat di sepanjang jalan di ketiga desa terdampak kekeringan. Batang-batang padi tampak kering, beberapa di antaranya justru sudah terbakar.
Mastur (40), warga Ridomanah, yang juga petani penggarap, terpaksa beralih profesi menjadi kuli bangunan karena tidak ada sawah yang bisa ditanami.
(KYR)

menu
menu