Sumber berita: KOMPAS, NO 013 THN 54, SELASA 10 JULI 2018

Sumber foto: Kompas.Id

Suryo Nugroho Separuh Lengan, Sepenuh Hati

Sejak usia 10 tahun, Suryo Nugroho (23) bermain bulu tangkis menggunakan ’’satu setengah” lengan. Lengan kirinya hanya tinggal separuh karena harus diamputasi akibat kecelakaan motor yang dialaminya pada 2006.

Sisa luka itu menggiring Suryo menemukan jalan hidupnya, sebagai juara
dunia bulu tangkis antardifabel

Keriuhan terjadi di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (28/6/2018), saat ratusan penonton bertepuk tangan untuk idola baru mereka, Suryo, yang sedang melawan pebulu tangkis Dhe- va Anrimusthi. Penonton sedang menyaksikan final tunggal putra kelas SU-5 (tunadaksa bagian atas) uji coba Asian Para Games 2018. Walaupun dukungan meriah, pada akhir pertandingan Suryo menyerah. Ia kalah dari Deva, 22-24, 21-23.

’’Tadi sudah di batas maksimal, sudah terlalu lelah, tidak bisa dipaksa lagi. Hari ini sudah bermain lima pertandingan karena kejuaraan ini hanya dua hari,” tutur Suryo.

Meski kalah, Suryo tidak terlalu kecewa. Setidaknya, mimpinya untuk hadir di Istora sebagai pemain bulu tangkis tercapai. Sejak kecil, ia selalu memimpikan bermain di Istora, seperti idolanya, Taufik Hidayat.

Suryo merasa takjub. Ia masih tidak memercayai hari ini akan datang, apalagi setelah kejadian pahit yang merenggut lengan kiri bagian atas 12
tahun silam. Saat itu, mimpinya untuk menjadi pemain bulu tangkis dia kubur dalam-dalam.

Suryo tidak difabel sejak lahir. Sampai ketika usia 10 tahun, ia mengalami kecelakaan sepeda motor. Saat itu, tahun 2006, Suryo sedang mengikuti kejuaraan bulu tangkis di Papua Suryo yang saat itu diboncengi rekannya mengaldmi kecelakaan tunggal dan teijatuh dari motor. Kejadian itu mengakibatkan tulang lengan kirinya remuk.

’’Kerusakan tulang itu cukup parah. Dokter menyatakan bisa mengganggu saraf lain jika didiamkan. Akhirnya dokter memutuskan untuk amputasi dari telapak sampai bagian siku,” ucapnya

Sejak saat itu, Suryo menjadi difabel. Peristiwa itu meruntuhkan semangatnya untuk menjadi atlet bulu tangkis. Suryo berhenti dari latihan yang sudah dia geluti selama tiga tahun di klub lokal Surabaya Suryo mengurung diri di rumah. Ia tak kuat mendengar perkataan orang lain tentang kondisi lengannya.

Bahkan, Suryo berhenti mengenyam pendidikan di SDN Keprabon 2, Surabaya Ia dan orangtua memutuskan untuk home schooling sementara waktu.

”Itu berat, sangat berat dari biasa ke difabel. Saya sangat minder dengan kondisi lengan. Di rumah dengan ayah dan ibu seakan lebih baik karena tidak ada omongan aneh,” tuturnya.

Ayahnya, Slamet Riyanto, dan ibunya, Suswati, terus memotivasi Suryo ketika masa sulit. Sang ayah yang semula memperkenalkan bulu tangkis kepadanya kembali menyarankan agar- Suryo kembali berlatih. Sementara itu, Sang Ibu selalu bisa menjadi penenang hari Suryo dengan memintanya berhenti meratapi nasib.

Tiga tahun setelah kecelakaan, tahun 2009, Suryo mengetahui Komite Paralimpiade Nasional (NPC) memiliki latihan khusus bulu tangkis
difabel. Ia pun merasa saat itu merupakan momentum tepat untuk berlatih kembali.

Lahir kembali
Tahap memulai latihan itu tidak mudah. Suryo memerlukan penyesuaian terhadap bentuk tubuhnya yang baru. Ia merasa kehilangan keseimbangan saat berlari, memukul, atau melompat. ’’Untuk melatih keseimbangan menghabiskan waktu tiga bulan, sulit awalnya,” katanya.

Latihannya perlahan membuahkan hasil. Belum genap setahun berlatih, Suryo menjadi juara pada Kejuaraan Nasional Penyandang Cacat 2009 dan Pekan Olahraga Pelajar Penyandang Cacat Nasional Popca- nas 2009.

Suryo yang baru saja bangkit dari keterpurukan kembali hancur. Bertepatan pada 2009, sang ibu divonis kanker getah bening. Namun, ia terus berlatih bulu tangkis meski pikirannya kadang terbelah karena memikirkan ibunya.

Sampai pada pertengahan 2010, ibunya meninggal. Kala itu Suryo tidak berlatih selama seminggu. ’’Saya kecewa, sedih, karena ibu belum bisa melihat saya berprestasi di luar negeri. Namun, ibu pernah bilang, tidak ada gunanya berlama-lama meratapi keadaan,” ujarnya Suryo bangkit.

Dua bulan setelah ibunya meninggal, ia dipanggil ke pelatnas badminton NPC. Suryo terpilih mewakili Indonesia pada ajang Asian Para Games Guangzhou 2010. Saat itu usianya baru 15 tahun.

Suryo yang saat itu merupakan peserta termuda membawakan hadiah medali perak untuk sang ibu. Sejak Asian Para Games, ia mengabdikan hidupnya untuk bulu tangkis. Suryo hingga kini tak pernah absen dalam pergelaran Asian Para Games dan ASEAN Para Games sejak 2010. Ia pun akan mewakili Indonesia, Oktober nanti, ketika Asian Para Games digelar.

Prestasi teranyar Suryo adalah berhasil menjadi juara dunia di Korea Selatan, akhir 2017. Kemenangan itu sekaligus membawa Suryo menduduki peringkat keempat pada peringkat Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF).

Biaya sendiri
Prestasi di Korsel itu didapatkan Suryo dengan mengorbankan tabung- an. Ia berangkat dengan uang sendiri dengan tambahan bantuan dari NPC.
Total. Suryo merogoh kocek Rp 12 juta Uang belasan juta itu tidak kembali sedikit pun. Dia tidak mendapatkan apresiasi dari pemerintah walaupun telah membanggakan Indonesia. ’’Tidak ada hadiah. Bonus juga tidak ada dari pemerintah. Jadi, ya, kalau pergi ke kejuaraan dengan uang sendiri, ya, harus diikhlaskan,” ucapnya.

Suryo akan kembali menggelon- torkan uangnya Rp 40 juta untuk ikut Kejuaraan BWF di Australia, November 2018. Meski kurang rela, Suryo membutuhkan poin dari kejuaraan tersebut. Ia sedang mengincar untuk bermain di Paralimpiade Tokyo 2020.

Suryo perlu membiayai diri sendiri untuk kejuaraan dengan poin tinggi karena Kementerian Pemuda dan Olahraga dan NPC hanya memberi jatah satu kejuaraan setiap tahun. Padahal, tahun 2018, Suryo berangkat ke tiga kejuaraan.

Kendati demikian, jumlah itu tidak cukup mengejar tiket ke Paralimpiade. Dari 13 kejuaraan kalender BWF, minimal Suryo mengikuti lima kejuaraan. Syarat itu mutlak untuk memastikan tiket ke Tokyo. Untuk mendapatkan Rp 40 juta, Suryo menyisihkan uang saku dari pelatnas Asian Para Games yang dimulai sejak Januari 2018. Dari Rp 15 juta yang didapatnya setiap bulan, ia menyisihkan Rp 10 juta

”Mau bagaimana lagi. Paralimpiade dan bulu tangkis itu cita-cita dan masa depan saya,” katanya. Namun, Suryo tidak berhenti untuk mengejar mimpinya.

menu
menu