Sumber berita: KONTAN, NO 3368 THN 12, KAMIS 05 JULI 2018

Sumber foto: Ekonomi Kompas.com

Tak Mundur Meski Rupiah Melemah

Emiten Grup Bakrie tidak melakukan perubahan skema restrukturisasi utang dalam dollar AS meski rupiah turun

JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah membikin pusing banyak perusahaan, terutama perusahaan yang banyak mengandalkan bahan baku impor atau memiliki banyak utang dan kewajiban dalam denominasi dollar Amerika Serikat (AS). Termasuk di antaranya adalah emiten-emiten anggota Grup Bakrie.

Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi mempengaruhi rencana restrukturisasi utang, yang sedang getol dilakukan emiten Grup Bakrie. Kurs penutupan mata uang Garuda di pasar spot sempat mencapai Rp 14.397 per dollar AS pada Selasa (3/7). Kemarin, kurs spot rupiah naik tipis menjadi Rp 14.363 per dollar AS.
Emiten Grup Bakrie banyak memiliki utang dalam denominasi dollar AS. Ambil contoh PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Saat ini, perusahaan tersebut tengah berusaha merestrukturisasi utang senilai total US$ 747 juta.

Rinciannya, utang kepada Mitsubishi Corporation RtM Japan Ltd US$ 218 juta sudah selesai direstrukturisasi. Sisanya, US$ 121 juta kepada Eu- rofa Capital Investment dan US$ 408juta kepada Glencore International AG masih dalam proses restrukturisasi.

Pada paparan publik beberapa waktu lalu, BNBR menyebut utang kepada kepada Glencore dalam mata uang rupiah sebesar Rp 5,7 triliun dan utang kepada Eurofa Capital Rp 1,6 triliun. Namun, jika mengacu pada kurs dollar AS per Rabu (4/7), utang kepada Eurofa naik jadi Rp 1,7 triliun dan utang pada Glencore mer\jadi Rp 5,8 triliun.

Direktur Keuangan BNBR Amri Aswono Putro mengakui gejolak kurs mempengaruhi penilaian utang. Tapi BNBR tidak berupaya hedging karena upaya hedging memakan biaya 3%-4% dari nilai hedging per tahun. "Lebih baik dana untuk hedging dipergunakan untuk investasi atau modal kerja yang produktif," kata dia, kemarin. Karena itu, BNBR tidak mengubah skema restrukturisasi utang.

Begitu juga dengan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Per 2017, total kewajiban BTEL mencapai Rp 14,87 triliun! Direktur Utama BTEL Robertas Bismarka menyebut total utang yang akan direstrukturisasi tahun ini sebesar Rp 11 triliun dari 580 kreditur. "Kenaikan dollar AS ada pengaruhnya terhadap pelaksanaan restrukturisasi utang BTEL untuk porsi yang dicicil secara tunai," kata Robertas tanpa merinci besar nilainya.

Namun, mayoritas restruk- turiasi utang BTEL dilakukan lewat penerbitan mandatory convertible bonds (MCB) dan menggunakan kurs Rp 12.138 per dollar AS. Robertus menambahkan, porsi cicilan tunai dapat dibayar sesuai kemampuan perusahaan dengan tenor yang dapat diperpanjang hingga 10 tahun.

"Jika diperlukan, perusahaan dapat-menerapkan hedging terhadap utang dalam dollar AS," terang dia. Sama halnya dengan sanginduk, BTEL juga tak berencana mengubah skema restrukturisasi utangnya, karena sudah diatur dalam PKPU.

menu
menu