Sumber berita: KOMPAS, NO 017 THN 54, SABTU 14 JULI 2018

Sumber foto: Tribunnews.com

Target Pengadaan Beras Terancam Gagal

JAKARTA, KOMPAS - Target pengadaan beras dari produksi dalam negeri oleh Perum Bulog terancam gagal. Selain harga gabah cenderung naik, suplai berpotensi terganggu oleh kekeringan dan serangan wereng.

Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas SantOsa berpendapat, tanpa ada kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP), Bulog akan kesulitan menyerap gabah produksi petani. ”Ke depan petani akan menghadapi kekeringan dan hama wereng,” ujarnya seusai diskusi di House of Rice di Jakarta, Jumat (13/7/2018).

Menurut Andreas, kekeringan dan serangan wereng menambah risiko gagal panen. Kondisi itu diperparah oleh kecenderungan naiknya harga gabah di tingkat petani.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani pada Juni 2018 mencapai Rp 4.650 per kilogram (kg). Angka itu naik 2,1 persen dibandingkan dengan Mei 2018 dan jauh lebih tinggi dibandingkan HPP sebesar Rp 3.700 per kg GKP.

’’Harga (gabah) pada Maret- April 2018 dapat turun di angka Rp 4.000-an per kg karena panen raya. Namun, pada panen kedua petani cenderung menyimpannya untuk modal tanam musim berikutnya pada Oktober 2018,” ujarnya.

Oleh karena itu, harga gabah berpotensi naik Hal itu akan semakin menyulitkan pengadaan. Target pengadaan beras dari produksi dalam negeri, berdasarkan rapat koordinasi terbatas Kementerian Koordinator Perekonomian pada Februari 2018, adalah 2,2 juta ton selama Januari-Juni 2018.
Akan tetapi, realisasi pengadaan beras sampai 10 Juli 2018, menurut laman bu- log.co.id, baru 1,82 juta ton

Angka itu termasuk beras impor yang sedikitnya 715.383 ton. Artinya, pengadaan dari dalam negeri baru sekitar 1 juta ton.

Oleh sebab itu, Andreas berpendapat, revisi HPP perlu jadi prioritas pemerintah. Dengan cara ini Bulog lebih berdaya dalam penyerapan. ’’Inflasi terjadi setiap tahun, tetapi HPP tetap,” ujarnya.

Saat ditemui dalam kesempatan yang sama, Direktur Pengadaan Perum Bulog Bach- tiar menolak memberikan keterangan. Dia juga tidak menjawab ketika dikonfirmasi tentang realisasi pengadaan beras. ’’Yang penting saat ini suplai beras aman,” kata Bachtiar.

Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menargetkan pengadaan beras dari dalam negeri mencapai 1 juta ton pada September 2018 dengan harga HPP dan fleksibilitas 10 persen. Jika tidak terpenuhi, 600.000 ton dari 1,2 juta ton beras impor yang sudah disepakati akan masuk ke Indonesia secara bertahap.

Kegagalan penyerapan beras tak hanya kali ini saja. Dalam beberapa tahun terakhir, Bulog gagal merealisasikan target pengadaan. Pemicunya HPP selalu tertinggal dari harga pasar.
(JUD)

 

menu
menu