Sumber berita: KOMPAS. N0 41 THN-54 SELASA 07 AGUSTUS 2018

Sumber foto: HowMoneyIndonesia.com

Tekfin Ubah Pasar Tenaga Kerja

JAKARTA, KOMPAS — Tren teknologi finansial memengaruhi lahirnya kebutuhan pekerja dengan kompetensi baru. Industri perlu berkolaborasi menciptakan kurikulum yang relevan bersama institusi pendidikan demi menjembatani permintaan dan suplai tenaga kerja.

Direktur Kebijakan Publik Asosiasi Fintech Indonesia Ajisatria Suleiman di Jakarta, Senin (6/8/2018), menyebutkan, ada tiga keahlian yang dicari industri jasa keuangan modern. Pertama, analisis data atau data science. Keberadaan aplikasi teknologi finansial memudahkan akses masyarakat. Namun, agar tetap relevan, pemilik aplikasi harus tahu bagaimana mengoperasikan teknologi dan membaca hasil analisis data berukuran besar.

Keahlian kedua adalah menciptakan tampilan aplikasi sesuai pengalaman konsumen. Desain wajah sebuah aplikasi amat memengaruhi tingkat adopsi layanan. Adapun keahlian ketiga adalah manajemen risiko. Keahlian ini sudah banyak dimiliki oleh tenaga kerja industri jasa keuangan. Namun, asosiasi menganggap tetap perlu peningkatan agar relevan dengan perkembangan risiko yang dihasilkan karena adopsi teknologi finansial.

Wahyoe Soedarmono, dosen di Sampoerna University, memandang bidang profesi tidak akan lagi terkotak-kotak antara teknologi informasi komunikasi, ekonomi, dan bisnis. Pengetahuan multidisiplin ilmu harus dimiliki pekerja tanpa meninggalkan inti ilmu yang dipelajari saat menempuh pendidikan tinggi.

Head of Corporate Sustainability HSBC Indonesia Nuni Sutyoko mencontohkan program edukasi pelatihan kepada pelatih yang dijalankan lembaganya sejak tiga tahun lalu. Program ini bekerja sama dengan Putera Sampoerna Foundation melalui Sampoerna University. Pesertanya adalah dosen fakultas ekonomi dan bisnis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira Adhinegara berpendapat, kampus dan industri jasa keuangan harus lebih aktif bekerja sama, terutama dalam penyusunan kurikulum pendidikan. Tujuannya mencetak lulusan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. “Kampus di Indonesia perlu jadi sarana inkubasi calon wirausaha rintisan bidang teknologi digital. Model seperti ini sudah banyak diterapkan oleh kampus di luar negeri,” ujarnya.

Terkait tren teknologi digital, kata Bhima, tidak akan menghapus inti materi pelajaran di fakultas ekonomi dan bisnis. Tren itu justru menambah materi kurikulum baru sehingga melengkapi substansi yang sudah ada.

Di kalangan tenaga kerja industri jasa keuangan sedang mengalami kecemasan terkait otomatisasi. Bhima mencontohkan pengalaman Perancis yang mulanya memprediksi kehilangan 500.000 orang tenaga kerja per tahun akibat otomatisasi dan internet. Namun, kenyataannya justru tumbuh permintaan 1,5 juta orang tenaga kerja baru. (MED)

menu
menu