Sumber berita: KOMPAS. N0 54 THN-54 SELASA 21 AGUSTUS 2018

Sumber foto: FRANSISKUS WISNU W DANY | Autonomous Electric Vehicle, mobil tanpa pengemudi ini memanfaatkan teknologi 5G. Mobil dilengkapi sensor yang memungkinkan untuk berjalan secara otomatis tanpa pengemudi.

Teknologi 5G Sasar Pasar Industri

JAKARTA, KOMPAS – Operator telekomunikasi Telkomsel dan XL Axiata memperkenalkan dan menguji coba teknologi 5G diIndonesia. Kelak teknologi ini akan menyasar kebutuhan industri dibandingkan dengan teknologi 3G dan 4G yang selama ini menyasar ke konsumen ritel.

Telkomsel memberikan pengalaman teknologi 5G bersamaan dengan penyelenggaraan Asian Games 2018. Telkomsel menghadirkan pengalaman berkendara tanpa pengemudi serta fasilitas seperti sepak bola dan bulu tangkis virtual. Adapun XL Axiata menggelar demo pemanfaatan teknologi 5G pada pengelolaan sampah, taman, dan pemeliharaan kebersihan sungai.

“Konsumen pengguna teknologi 5G adalah kalangan industri, seperti untuk kepentingan robot, realitas virtual, mobil tanpa pengemudi, dan lain-lain. Teknologi ini akan menunjang Revolusi 4.0 yang dicanangkan presiden,” kata Vice President Technology and System Telkomsel Indra Mardiatna di Jakarta, Senin (20/8/2018).

Indra mengaku, saat ini mereka dalam tahap edukasi. Setelah Asian Games, fasilitas itu akan ditempatkan di Telkom Experience Center sehingga tetap bisa dilihat oleh masyarakat dan bisa digunakan untuk kepentingan riset.

Komersialisasi teknologi 5G diperkirakan bisa dimulai tahun 2020. Beberapa negara mungkin bisa memulai penggunaan pada 2019. Indra menambahkan, pihaknya masih menunggu arahan pemerintah untuk komersialisasi teknologi itu.

Kota cerdas
Salah satu yang menarik adalah penggunaan 5G untuk mobil tanpa pengemudi. Kendaraan ini diujicoba di sekitar area Gelora Bung Karno. “Kendaraan otonom atau kendaraan tanpa pengemudi ini merupakan contoh kecanggihan teknologi LIDAR (Light Detection and Ranging), AI (Artificial Intelligent) dan tentunya teknologi 5G,” ujarnya.

Dengan teknologi 5G, kendaraan otonom yang digadang-gadang akan mewujudkan konsep kota cerdas nantinya membutuhkan jaringan dengan latensi 1 millidetik serta kecepatan transfer data 20 Gbps agar dapat melakukan komunikasi dengan kendaraan lain, menghubungkan infrastruktur dengan perangkat, serta memastikan mobilitas tanpa hambatan.

Direktur Teknologi PT XL Axiata Tbk, Yessie D Yosetya mengatakan, model bisnis operator telekomunikasi kemungkinan berubah dengan hadirnya layanan komersial 5G. “Kami mungkin tidak hanya menjual konektivitas, seperti paket data. Model bisnis baru akan muncul, semisal tata kelola sampah menggunakan benda terhubung internet (IoT) seluler berteknologi 5G,” ujarnya.

Pada saat uji coba kemarin, XL Axiata berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Beberapa demo, seperti sistem pengelolaan sampah dan kebersihan sungai, berfungsi untuk menunjukkan kepada khalayak umum bahwa teknologi 5G bisa dipakai mendukung tata kelola kota cerdas.

Pemerintah masih menyiapkan spektrum frekuensi pendukung teknologi 5G

Yessie menjelaskan, perusahaannya sudah memiliki peta jalan penerapan internet super cepat menggunakan teknologi 5G. Implementasi peta jalan dimulai dari uji coba 5G di luar ruang pertama kali pada tahun 2017. Pada 2018, uji coba kembali dilakukan dengan fokus ke persoalan kondisi konektivitas perkotaan.

“Ekosistem 5G harus disiapkan sejak sekarang, antara lain spektrum frekuensi pendukung, ketersediaan infrastruktur, dan perangkat komunikasi. Model bisnis operator telekomunikasi juga harus dipikirkan,” tambah dia.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan, pemerintah masih menyiapkan spektrum frekuensi pendukung teknologi 5G. Salah satu spektrum frekuensinya adalah 3,5 GHz yang sekarang masih dipakai oleh penyelenggara satelit.

“Ketika 5G dikomersialisasikan, tantangan utama adalah menentukan model bisnis yang pas. Apa mau bermain di konsumen ritel atau ke segmen korporasi,” kata dia.

menu
menu