Sumber berita: KOMPAS, NO 006 THN 54, RABU 04 JULI 2018

Sumber foto: istimewa

Tertinggal Peluang

Sudah sejak 2012 transaksi berjalan Indonesia defisit. Enam tahun lamanya, 2012 2017, Indonesia mesti harap-harap cemas menanti investasi langsung dan portofolio asing masuk ke Indonesia., jika nilai yang masuk melebihi defisit transaksi berjalan, maka neraca pembayaran Indonesia akan surplus. „ Namun, sebaliknya, jika nilai investasi dan portofolio asing yang masuk lebih kecil daripada besaran defisit transaksi berjalan, maka neraca pembayaran Indonesia akan defisit. Begitu juga jika penanaman modal dan portofolio asing itu justru lebih banyak keluar dari neraca pembayaran jelas defisit.

Transaksi berjalan yang defisit, artinya dollar AS yang dihasilkan dari kegiatan perdagangan lebih kecil daripada dollar AS yang keluar dari wilayah RI. Secara kumulatif, Indonesia, yang transaksi berjalannya defisit, bisa disebut sebagai negara yang lebih memerlukan dollar AS daripada menghasilkan dollar AS. Untuk ’’menutup” defisit itu, Indonesia memerlukan transaksi finansial berupa aliran modal dan portofolio. Dengan kata lain, selama enam tahun terakhir, Indonesia sangat bergantung pada aliran modal berupa investasi langsung dan investasi portofolio.

Pada triwulan 1-2018, defisit transaksi berjalan RI sebesar 5,542 miliar dollar AS atau sekitar 2,15 persen produk domestik bruto (PDB). Padahal, transaksi modal hanya sebesar 58 juta dollar AS dan transaksi finansial sebesar 1,814 miliar dollar AS. Bisa dipastikan, neraca pembayaran Indonesia ,(NPI) defisit 3,855 miliar dollar AS.

Kondisi serupa terjadi pada triwulan 1-2016, dengan defisit transaksi berjalan sebesar 4,634 miliar dollar AS atau 2,14 persen PDB. Sementara transaksi modal hanya sebesar 1 juta dollar AS dan transaksi finansial 4,419 miliar dollar AS. Maka, NPI defisit 287 juta dollar AS.

Data yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan, nilai investasi portofolio yang masuk ke Indonesia cukup fluktuatif. Pada triwulan 1-2016, misalnya, nilainya sebesar 4,438 miliar dollar AS. Pada triwulan 1-2017, investasi portofolio yang masuk ke Indonesia mencapai 6,536 miliar dollar AS. Akan tetapi, pada triwulan 1-2018 justru banyak investasi portofolio yang meninggalkan Indonesia sehingga nilainya menjadi defisit 1,174 miliar dollar AS.

Portofolio memang seperti dana yang tidak bisa dipegang, bisa datang dan pergi sekehendak pemiliknya Dana-dana ini masuk ke sektor keuangan dan pasar saham sehingga waktu yang diperlukan untuk meninggalkan negara yang ditempati menjadi lebih singkat.

Situasi yang berbeda teijadi pada investasi langsung. Dana pada investasi langsung akan berpikir panjang sebelum meninggalkan negara yang ditempati. Sebab, investasi yang ditempatkan di negara tujuan tak hanya dalam bentuk uang, tetapi juga dalam bentuk sarana dan prasarana produksi, seperti pabrik, barang modal, bahan baku, dan bahan penolong.

Peluang
Dari sisi upaya meraih investasi langsung Indonesia sebenarnya memiliki peluang. Berdasarkan data Kemudahan Berbisnis 2018 yang diterbitkan Bank Dunia, Indonesia berada pada peringkat ke-72. Posisi ini lebih baik dibandingkan dengan Kemudahan Berbisnis 2017 yang menempatkan RI pada peringkat ke-91. Bank Dunia menilai, perbaikan peringkat itu, antara lain, karena di Indonesia semakin mudah memperoleh tenaga listrik.

Adapun dari sisi daya saing, Indeks Daya Saing Indonesia 2017/2018 berdasarkan Forum Ekonomi Dunia (WEF) ada di posisi 36 dari 137 negara. Peringkat ini lebih baik dari Indeks Daya Saing 2016/2017 yang ada di posisi 41 dari 138 negara.

Data dari Konferensi Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) yang terbit pada Juni 2018 menunjukkan, investasi langsung yang masuk ke Indonesia pada 2017 sebesar 23,063 miliar dollar AS. Adapun yang meninggalkan RI sebesar 2,912 miliar dollar AS. Investasi langsung yang keluar dari Indonesia, antara lain, berupa investasi perusahaan Indonesia di luar negeri atau akuisisi.

Investasi langsung ke negara-negara berkembang di Asia mencapai 476 miliar dollar AS pada 2017. Catatan UNCTAD menyebutkan, investasi langsung kembali membaik di Indonesia Porsi investasi langsung di regional Asia sekitar 33 persen dari total investasi langsung di dunia, meningkat dari 25 persen pada 2016.' Bisa dikatakan, Asia merupakan kawasan penerima investasi langsung di dunia. Diperkirakan tahun ini pertumbuhan aliran investasi langsung yang masuk ke kawasan Asia akan stagnan. '

Indonesia, dengan pertumbuhan investasi langsung pada 2017 sebesar 488,2 persen, tercatat sebagai negara dengan pertumbuhan. investasi langsung terbesar di negara-negara berkembang Asia. Namun, pertumbuhan ini didasarkan pada angka 4 miliar dollar AS investasi langsung pada 2016. Perbaikan investasi langsung di Indonesia terjadi di sejumlah sektor, antara lain, pertanian, manufaktur, keuangan, dan perdagangan. Salah satu yang dicatat UNCTAD berperan dalam pergerakan investasi langsung adalah ekspansi perusahaan China ke pasar Asia Tenggara, misalnya, Grup Alibaba yang membeli saham Tokopedia.

Saat ini, kondisi perekonomian global sedang diliputi ketidakpastian. Penyebabnya tak hanya satu, antara lain, perang dagang Amerika Serikat-China, rencana Bank Sentral Eropa mengurangi pembelian obligasi, dan harga minyak yang semakin tinggi. Pilihan terbaik bagi Indonesia adalah menarik sebanyak mungkin investasi langsung. Bahkan, lebih baik lagi, jika investasi langsung itu berorientasi ekspor.

Dengan cara itu, Indonesia bisa mendapat dua manfaat sekaligus. Penanaman modal asing sekaligus mencatatkan tambahan devisa. Potensi investasi langsung ke kawasan Asia tahun ini mesti dimanfaatkan. Caranya, dengan merealisasikan perbaikan kemudahan berbisnis terhadap calon investor, termasuk melalui kepastian hukum dan aturan.

Jika peluang menarik investasi langsung tidak dimanfaatkan, Indonesia bisa ditinggal negara lain yang gencar menawarkan negaranya sebagai tempat yang baik untuk berinvestasi. Pilihannya, ambil peluang atau tertinggal.

Dewi Indriastuti

menu
menu