Sumber berita: KONTAN, NO 3347 THN 12, SENIN 4 MEI 2018

Sumber foto: KONTAN, NO 3347 THN 12, SENIN 4 MEI 2018

Toshiba Jual Unit Cip kepada Konsorsium Bain US$ 18 Miliar

TOKYO. Toshiba Corp telah menyelesaikan penjualan unit usahanya yang memproduksi cip senilai US$ 18 miliar. Unit usaha ini dijual kepada konsorsium yang dipimpin oleh perusahaan ekuitas swasta asal Amerika Serikat (AS), Bain Capital.

Sejatinya kesepakatan ini awalnya akan selesai pada akhir Maret 2018 lalu. Namun target tersebut ditunda karena ada proses peninjauan oleh otoritas anti monopoli China. Pada akhirnya otoritas China menyetujui kesepakatan tersebut pada bulan lalu. Tinjauan aptimonopoli ini merupakan rintangan terakhir dan terbesar bagi penjualan unit bisnis cip Toshiba ini.

Konsorsium yang dipimpin oleh Bain ini akhirnya memenangkan pertempuran panjang dan sangat kontroversial sejak tahun lalu dengan Toshiba Memory sebagai produ
sen terbesar kedua cip NAND. Toshiba akhirnya melepaskan unit bisnis cip ini setelah terjadi pembengkakan biaya di unit nuklir Westinghouse yang membuat bisnis perusahaan ini masuk dalam krisis keuangan.

"                          .Mi ,vvufrKsv

Toshiba akan
membeli kembali
40% saham
sebagai bagian
dari

kesepakatan.

Konsorsium yang tergabung' dalam pembelian ini adalah produsen cip asal Korea Selatan yakni SK Hynix, Apple Inc, Dell Technologies, Seagate Technology dan Kingston Technology. Berdasarkan kesepakatan dengan Bain, Tos
hiba bisa membeli kembali 40% saham unit ini.

"Konsorsium yang dipimpin Bain Capital telah berkomitmen untuk melakukan investasi modal yang signifikan untuk membantu mengembangkan dan menumbuhkan teknologi semikonduktor," ujar manajemen Bain Capital dalam sebuah pernyataan seperti dikutip Reuters.

Persetujuan untuk konsorsium Bain dapat meningkatkan harapan bahwa China juga akan memberikan lampu hijau kepada Qualcomm yang mengusulkan rencana pengambilalihan bisnis pesaingnya, NXP Semikonduktor senilai US$ 44 miliar.

Regulator China saat ini masih mengkaji rencana Qualcomm tersebut agar bisa me- minimalisir dampak negatif dari kesepakatan tersebut.

Rizki Caturini

menu
menu