Sumber berita: KOMPAS. N0 48 THN-54 RABU 15 AGUSTUS 2018

Sumber foto: KOMPAS/ANGGER PUTRANTO | Pengunjung melihat-lihat aneka mobil produksi Toyota yang dipamerkan di Toyota Mega Web, Tokyo, Minggu

Toyota dalam 60 Tahun Kerja Sama Indonesia-Jepang

Jika dianalogikan dalam suatu lukisan, Toyota merupakan salah satu warna dominan dalam lukisan kerja sama antara Indonesia dan Jepang. Toyota banyak mewarnai persahabatan dua negara di Asia tersebut.

Hubungan Indonesia dan Jepang memang diawali dengan kisah kelam penjajahan sejak tahun 1942 hingga 1945.

Sekitar 13 tahun kemudian, Jepang dan Indonesia sepakat membangun hubungan persahabatan yang lebih baik. Tahun 1958, presiden pertama Indonesia, Soekarno, dan Perdana Menteri Jepang saat itu, Nobusuke Kishi, merintis hubungan kerja sama tersebut.

Pada era Orde Baru, hubungan Indonesia dan Jepang semakin intim. Dalam buku Sofjan Wanandi dan Tujuh Presiden dikisahkan, Presiden Soeharto mengangkat Soedjono Hoemardani sebagai Asisten Pribadi Presiden di Bidang Ekonomi untuk melakukan lobi- lobi ke Jepang. Soedjono merupakan pembuka jalan yang memuluskan pinjaman bantuan Jepang sebesar 30 juta dollar AS.

Soedjono, yang kemudian mendapat bintang kehormatan Harta Suci Kelas Satu dari Kekaisaran Jepang, juga berperan dalam mengajak perusahaan Jepang untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan Indonesia. Upaya tersebut dimulai tahun 1970. Hingga kini, sedikitnya ada 1.800 perusahaan Jepang di Indonesia. Hal itu membuat Jepang menjadi negara investor terbesar kedua di Indonesia.

Salah satu perusahaan Jepang yang menjadi perintis kerja sama dengan perusahaan Indonesia adalah Toyota. Perusahaan otomotif asal Jepang tersebut ”diperkenalkan” oleh Soedjono kepada perusahaan Astra yang didirikan oleh William Soeryadjaya dan Tjia Kian Tie.

Selain Toyota, ada pula perusahaan Matsushita Electric Industrial Co Ltd (sekarang Panasonic Group) yang dikenalkan dengan perusahaan National Gobel. Serta perusahaan Jepang lainnya, antara lain Mitsubishi, Marubeni, Sumitomo, dan Nissan.

Pola kerja sama antar-perusahaan beda negara tersebut diawali dengan menjadi agen kemudian menjadi mitra hingga akhirnya tumbuh menjadi perusahaan industri. Kerja sama antara Toyota Motor Corporation (TMC) dan PT Astra International melahirkan PT Toyota Astra Motor sebagai importir mobil Toyota pada April 1971.

Selang dua tahun kemudian, pada 1973 lahirlah perusahaan perakitan mobil PT Multi Astra. Berturut-turut pada 1976 muncul PT Toyota Mobilindo yang memproduksi mobil dengan kandungan dalam negeri, pada 1982 berdiri PT Toyota Engine Indonesia yang memproduksi mesin mobil. Pada 1987, Toyota Indonesia menjadi eksportir otomotif pertama Indonesia.

Kini Toyota Indonesia punya dua kelompok perusahaan, yaitu PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) dan PT
Toyota Astra Motor (TAM).
TMMIN fokus pada produksi kendaraan dan ekspor, sedangkan TAM fokus pada penjualan domestik dan pelayanan purnajual.

Merayakan 60 tahun

Tahun ini, Pemerintah Indonesia dan Jepang merayakan 60 tahun hubungan kerja sama kedua negara. Festival Indonesia yang rutin digelar tiap tahun dirancang lebih meriah.

Bagi TMMIN, peristiwa itu merupakan momentum penting. Tak ayal, mereka memboyong imah jolopong, rumah adat Jawa Barat, yang banyak ditemukan di Karawang ke Hibiya Park, Tokyo, Jepang, sebagai lokasi Festival Indonesia 2018. Salah satu denyut persahabatan Indonesia-Jepang ada di Karawang karena di sana berdiri tiga pabrik milik Toyota.

Di sela-sela perayaan 60 tahun kerja sama Indonesia-Jepang, Kompas sempat berbincang dengan Presiden Direktur PT TMMIN Warih Andang Tjahjono di sebuah kedai teh di Tokyo, Sabtu (28/7/2018). ”Hubungan Jepang-Indonesia harus terus terjalin. Hubungan keduanya tidak hanya di sektor ekonomi, tetapi juga di sektor kultural agar kedua negara saling mengerti, saling memahami,” ujarnya.

Selama 60 tahun hubungan kerja sama Indonesia-Jepang terjalin, Toyota turut mewarnai di 48 tahun terakhir. Aneka kondisi stabilitas ekonomi dan politik di kedua negara telah dilalui. Hasilnya, Toyota masih menjadi raja di pasar mobil nasional.

Warih mengatakan, krisis ekonomi di Indonesia tahun 1997- 1998 menjadi bagian paling buruk. Saat itu, Toyota baru saja menyelesaikan proyek pembangunan pabrik pertamanya di Karawang.

”Karawang Plan I baru saja rampung. Namun, produksi jauh di bawah kapasitas. Saat itu pekerja hanya masuk tiga hari dalam seminggu. Per hari kami hanya bekerja satu jam,” tutur Warih yang saat itu masih menjabat Asisten Manager Engineering.

Situasi itu bisa dilewati dan Toyota terus mengembangkan industrinya. Tahun lalu, TMMIN memproduksi 554.000 mobil, sebanyak 199.600 unit di antaranya diekspor.

Hingga kini sudah lebih dari 1,3 juta kendaraan yang diekspor TMMIN ke negara lain. Tahun depan, TMMIN menargetkan pertumbuhan ekspor hingga 10 persen.

”Saat ini, kami dihadapkan banyak tantangan. Hal itu dilihat dari munculnya banyak pesaing. Apakah kami gentar? Tidak. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar Indonesia kompetitif. Kondisi ini yang justru membuat kami mau berjuang,” kata Warih.

Jika perekonomian Indonesia terus maju, Warih yakin TMMIN dapat lebih kompetitif dengan tiga negara lain yang juga memproduksi mobil Toyota. Saat ini Indonesia duduk di peringkat empat tertinggi sebagai produsen mobil Toyota setelah Amerika, China, dan Jepang.

”Saat ini di Indonesia, tingkat kepemilikan mobil sekitar 90 per 1.000. Sementara di negara-negara maju, tingkat kepemilikan mobil sudah mencapai 700 per 1.000 orang. Jika Indonesia menjadi negara maju, produksi mobil akan naik tiga kali lipat,” ujarnya.

Dalam posisi tersebut, kata Warih, infrastruktur menjadi tuntutan sekaligus menjadi stimulan untuk mempercepat tumbuhnya industri mobil.

Mobil listrik

Saat ditanya mengenai apa yang akan diberikan Toyota bagi hubungan Indonesia-Jepang di 60 tahun kedua, Warih mengatakan, Toyota masih ingin terus berkontribusi bagi bangsa Indonesia. Salah satunya dengan mewujudkan kehidupan yang lebih baik melalui mobil listrik.

Salah satu bentuk konkretnya adalah saat ini TMMIN terus berupaya mengenalkan teknologi dan infrastruktur yang mendukung mobil listrik. Hal itu dilakukan agar penerimaan mobil listrik di pasar cukup baik.

”Saat ini yang penting adalah meyakinkan masyarakat nyaman dengan mobil listrik. Nantinya regulasi dan rantai pasok akan mengikuti dengan sendirinya,” kata Warih.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, tahun 2025 diprediksi produksi mobil di Indonesia mencapai 2 juta unit dan 20 persen atau sekitar 310.000 unit di antaranya merupakan mobil listrik.

Warih berharap, TMMIN dapat berkontribusi dalam mewujudkan hal itu.

Hubungan kerja sama Indonesia dan Jepang yang sudah berjalan 60 tahun atau kerja sama Toyota yang sudah mencapai 48 tahun diharapkan dapat membantu mewujudkan pertumbuhan industri mobil listrik di Indonesia. Angka 60 tahun atau 48 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk saling mengenal.

”Bagi TMMIN, 60 tahun kerja sama seharusnya menjadi bukti tumbuhnya kepercayaan. Kalau sudah saling percaya, seharusnya investasi yang ditanamkan Toyota juga dapat semakin baik. Harapannya ekspor turut terdongkrak sehingga bisa membawa kemajuan bagi bangsa dan menyejahterakan masyarakat,” ujarnya.

menu
menu