Sumber berita: KOMPAS, NO 027 THN 54, SELASA 24 JULI 2018

Sumber foto: Tempo.co

Upaya Menciptakan Sekolah Inklusif

ZONASI

 

JAKARTA, KOMPAS — Penerapan sistem zonasi sekolah jangan hanya dilihat sebagai upaya pemerataan mutu hasil belajar siswa dengan menghadirkan sekolah berkualitas. Semangat sistem zonasi juga seharusnya dilihat sebagai upaya untuk mewujudkan sekolah inklusif, yakni sekolah yang menerima keberagaman siswa dari berbagai latar belakang.

Ubaid dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) di Jakarta, Senin (23/7/2018), mengatakan, di tengah beragam masalah implementasi zonasi sekolah dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) sejak dua tahun ini, ada keyakinan positif zonasi sekolah sebenarnya punya tujuan baik bagi reformasi sistem persekolahan. "Evaluasi perlu terus dilakukan untuk perbaikan. Acuan pelaksanaan zonasi perlu disinkronisasikan untuk mencapai tujuan baik yang diinginkan pemerintah agar selaras dengan masyarakat,” kata Ubaid.

Menurut Ubaid, zonasi juga memberikan peluang terciptanya keragaman di sekolah. Ada aturan supaya sekolah menerima pula siswa dari keluarga tidak mampu, anak berkebutuhan -khusus, anak dari luar zonasi karena perpindahan orang tua, selain memprioritaskan siswa dari zonasi tersebut.

’’Namun, nyatanya, di lapangan belum seperti yang diharapkan. Bahkan, di Per- mendikbud Nomor 14 Tahun 2018, kuota afirmasi untuk anak berkebutuhan khusus tidak ada. Padahal, di tahun sebelumnya ada Kekonsistenan untuk kebijakan yang baik, yang menjadikan sekolah inklusif, seharusnya tetap menjadi prioritas,” ujar Ubaid.

Secara terpisah, Ketua Yayasan Cahaya Guru Henny Supolo mengatakan, keragaman di sekolah sebenarnya bisa semakin terwujud dengan sistem zonasi sekolah. Ada ketentuan untuk menerima siswa dari zonasi, ada kuota afirmasi bagi anak berkebutuhan khusus, anak dari keluarga tidak mampu, serta anak dari luar zonasi. Di sekolah akan ada beragam anak dengan berbagai latar belakang suku, agama, ras, dan sosial ekonomi.

’’Sekolah dengan keragaman jadi kekuatan. Praktik baik toleransi di sekolah perlu ditemukan. Anak-anak akan belajar berkomunikasi dan bekerja sama dengan nyaman, bukan lagi dengan rasa saling curiga,” ujar Henny.

Menurut Henny, semua pihak harus kembali pada semangat dari dilaksanakannya zonasi. Berbagai implementasi yang kurang harus diperbaiki dengan mengacu pada semangat awal untuk membuat pemerataan sekolah di semua tempat beijalan. (ELN)

menu
menu