Sumber berita: KOMPAS. N0 74 THN-54 RABU 12 SEPTEMBER 2018

Sumber foto: Erafone.com

VII Pro, Janji Vivo Setahun Kemudian

Dalam perhelatan Mobile World Congress Shanghai 2017, Vivo memper kenalkan teknologi Under Display Fingerprint Scanning Solution, lebih banyak disebut Vivo Under Display. Empat belas bulan berikutnya, teknologi sidik jari hanya dengan menggunakan layar akhirnya menyambangi Indonesia.

Didit Putra Erlangga Rahardjo

Teknologi Under Display merupakan sensor pemindai sidik jari yang ditempatkan di bawah layar. Sensor sidik jari umumnya terletak di punggung ponsel, berdekatan dengan kamera belakang setelah ’’diusir” dari muka depan ponsel. Hal itu tidak lepas dari obsesi untuk membuat bagian layar bisa tampil sebebas mungkin tanpa terhalang tombol fisik, pinggiran (bezel), dan bahkan kamera depan jika memungkinkan,

Kolaborasi dengan produsen prosesor Qualcomm memungkinkan teknologi pemindaian bawah layar ini. Kuncinya ada di sensor ultrasonik yang mampu mengenali sidik jari meski dipisahkan oleh layar dengan ketebalan hingga 1 milimeter. Purwarupa itu dipertunjukkan pada MWC Shanghai berupa unit ponsel XPlay 6 yang dimodifikasi agar pengunjung memahami konsep dan cara kerjanya.

Tujuannya memang sederhana, memastikan sensor sidik jari tidak mengganggu desain produk. Layar depan pun bisa dibuat penuh tanpa hambatan meski saat ini masih terganjal oleh kamera depan. Itulah yang melatarbelakangi desain notch atau ’’poni” pada beberapa ponsel, diawali iPhone X, lalu Zenfone 5 dari Asus, hingga Oppo F9.

Yang terjadi kemudian sedikit berbeda Pada perhelatan Consumer Electronics Show 2018, Vivo memang menunjukkan produk yang siap dibeli berupa X20 UD, sebuah varian dari lini produk andalan (flagship), tetapi bukan lagi seperti purwarupa di MWC Shanghai 2017. Sensor biometrik kini justru ada di dalam layar (in-display).

Pencapaian itu dimungkinkan melalui kolaborasi dengan Synaptics, produsen sensor asal Amerika Serikat. Cara keija sensor ini secara sederhana adalah layar menerangi bagian sidik jari yang menyentuh layar di area yang ditentukan, cahaya yang memantul kembali ke sensor akan dicocokkan untuk keperluan validasi identitas.

Synaptics sendiri adalah pemain kawakan di industri sensor biometrik. Teknologi Clear ID yang dimanfaatkan sebagai sensor dalam layar juga diminati oleh produsen ponsel lain, seperti Xiaomi. Dalam rilis mereka, sensor sidik jari dalam layar dari Mi 8 memanfaatkan teknologi yang sama.

Teknologi in-display rupanya cocok sehingga Vivo merilis X21 yang diedarkan secara global, begitu pula Vivo NEX yang berambisi membuat muka depan berisi layar sepenuhnya sehingga kamera depan akan muncul secara mekanik dari bagian atas.

Dua nama yang disebut terakhir tidak diedarkan secara resmi di Indonesia.
Harapan masih ada pada seri Vll Pro yang diluncurkan oleh Vivo untuk pasar Indonesia pada Rabu (12/9/2018). Seri kelas menengah ini memang mengincar para penggemar swafotoyang kebetulan juga sedang digarap oleh Oppo dengan seri F mereka.

Vll Pro adalah ponsel pintar dengan sensor sidik jari dalam layar yang akhirnya tersedia untuk konsumen di Indonesia, tetapi dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan dengan seri X. Bermula dari purwarupa pada ajang MWC Shanghai 2017, inilah saatnya membuktikan apakah teknologi ini merupakan terobosan atau hanya pemanis semata.

Tidak berbeda
Kompas mendapatkan pinjaman unit dari Vivo Mobile Indonesia Ponsel pintar ini memiliki perbaikan spesifikasi dari pendahulunya, yakni V9, yang diluncurkan dari halaman Candi Borobudur, akhir Maret lalu.

Mulai dari sistem dalam cip (SoC) yang meningkat dari Snapdragon 450 pada V9 menjadi Snapdragon 660 di Vll Pro. Menggunakan komponen ini memungkinkan Vivo menyuntikkan kecerdasan buatan dalam kameranya. Artinya, kamera mampu belajar dari situasi dan kondisi pengambilan gambar, lantas menyodorkan pengaturan terbaik, mulai dari foto wajah, foto makanan, hingga foto dalam kondisi cahaya remang-remang.

Dari baterai V9 dengan spesifikasi 3.260 miliampere jam, Vll Pro memiliki 3.400 mAh. Vivo memperkenalkan teknologi Dual-Engine Fast Charging untuk pengisian cepat sekaligus sembilan lapis perlindungan dari bahaya kerusakan akibat arus listrik. Satu poin menyebut perlindungan melalui kabel, yang berarti anjuran untuk menggunakan aksesori resmi dari Vivo untuk menjamin keamanan penuh.

Resolusi kamera belakang turun dari 16 megapiksel pada V9 menjadi 12 megapiksel di Vll Pro. Namun, penerapan teknologi piksel ganda (dual pixel) menebusnya dengan kemampuan menangkap cahaya lebih banyak serta kecepatan otofokus lebih tinggi.

Dan, teknologi sensor sidik jari dalam layar membuat desain Vll Pro lebih sederhana daripada V9 yang masih meletakkan sensor sidik di punggung ponsel. Sensor sidik jari di bagian punggung memang sedikit merepotkan karena jari harus menjangkau dan berpeluang menyentuh lensa kamera utama dan meninggalkan noda minyak. Opsi sensor di depan jelas dihindari karena mengorbankan rasio layar ke badan, sesuatu yang dikejar produsen ponsel demi memanjakan konsumen yang ingin menikmati konten di layar tanpa gangguan.

Dengan rasio layar 19,5:9, Vll Pro memiliki bentang layar 6,41 inci. Layar ponsel ini menutupi 91,27 persen permukaan depan, menyisakan pinggiran dan kamera yang berbentuk seperti te- tesan air. Di bagian belakang, penempatan kamera di pojok membuat punggung ponsel terbuka dan menjadi kombinasi apik lewat dua pilihan warna, yakni hitam dan ungu, yang memiliki corak yang unik.

Memvalidasi lewat sidik jari di dalam layar tidak bisa dilakukan di sembarang lokasi. Lokasinya sudah ditentukan, yakni di paruh bawah layar, tepatnya di tengah. Saat layar terkunci, akan terlihat kilasan gambar sidik jari yang memandu titik pemindaian.

Pengalaman saat mengoperasikan sensor sidik jari dalam layar cukup menarik kita tidak lagi meletakkan permukaan jari ke sensor khusus yang biasanya berupa ceruk kecil di punggung ponsel, atau disamarkan melalui tombol fisik Saat permukaan jari menyentuh daerah pemindaian, terdapat animasi yang menunjukkan validasi tengah berlangsung.

Prosesnya juga berlangsung cepat, hampir tidak ada bedanya dengan sensor sidik jari fisik. Selain praktis, prosesnya juga terlihat futuristis. Hanya saja, pengguna tidak mendapatkan umpan balik atau feedback jika validasi sukses dilakukan, biasanya dilakukan dalam bentuk getaran kecil, terasa kecil, tetapi penting jika ingin membuka pengunci tanpa harus melihat isi layar.

Opsi lain untuk validasi identitas juga dihadirkan melalui pengenalan wajah dengan sinar inframerah. Caranya, sinar yang menyorot wajah akan memindai 1.024 titik di wajah dan tidak bergantung pada kondisi pencahayaan, bahkan di dalam kondisi yang sangat minim cahaya pun masih efektif.

Masih ada satu opsi keamanan berupa kombinasi sidik jari dan wajah. Saat sidik jari didaftarkan ke sensor, kamera juga mencari wajah yang sudah didaftarkan. Hanya saja, opsi ini mengasumsikan bahwa pengguna senantiasa melihat ke arah layar.

Dengan bertambahnya seri ponsel yang mengadopsi teknologi ini, penyempurnaan ataupun fitur baru yang dimungkinkan dari sensor sidik jari dalam layar di masa mendatang akan terbuka lebar. Tinggal sedikit lagi, obsesi akan ponsel pintar dengan bagian muka yang sepenuhnya berbentuk layar akan terpenuhi.

 

menu
menu