Sumber berita: KOMPAS, NO 024 THN 54, SABTU 21 JULI 2018

Sumber foto: KOMPAS/RADITYA HELABUMI, Suasana pameran dan konferensi waralaba IFRA 2018 yang berlangsung di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat (20/7/2018). Bisnis waralaba menawarkan permodalan yang terjangkau dan berpotensi terus tumbuh. Asosiasi Franchise Indonesia mencatat bisnis waralaba tumbuh 10-15 persen per tahun.

Waralaba Butuh Pemerintah

Pertumbuhan bisnis waralaba dinilai relatif stagnan. Selain peran pemerintah, pelaku juga perlu berinovasi untuk menjaga dan mengembangkan pasar, termasuk pasar global.

JAKARTA, KOMPAS - Perkembangan bisnis waralaba lokal dianggap potensial berkembang. Namun, selain inovasi dari para pelaku, peran pemerintah juga dibutuhkan untuk mendorong bisnis ini ke kancah global.

CEO Emeritus Asosiasi Franchise Indonesia Anang Sukandar, sesuai acara pembukaan International Franchise License and Business Concept Expo and Conference (IFRA) 2018, di Jakarta, Jumat (20/7/2018), menyatakan, usaha kecil, seperti bu- didaya ikan kerapu, burung walet, dan pembibitan pertanian, perlu dibantu dalam pengembangannya.

Menurut Anang, pertumbuhan bisnis waralaba di Indonesia cenderung stagnan. Penetrasi waralaba internasional mendominasi pasar dalam negeri, sementara waralaba lokal masih banyak yang belum mampu bersaing ke tingkat global.
Ketua Umum AFI Andrew Nugroho menambahkan, pemerintah dapat membina pewara- laba lokal agar mampu bersaing secara global. Pembinaan dinilai perlu untuk menjaga kualitas waralaba nasional, baik kualitas produk maupun pengelolaan.

Waralaba bisa jadi pilihan bagi mereka yang ingin mandiri secara bisnis, tetapi modal tidak terlalu besar. ’’Bisnis waralaba menawarkan skema permodalan yang fleksibel sehingga, hampir semua orang bisa menekuninya,” kata Andrew.

Pebisnis waralaba juga harus memiliki pengetahuan cukup di bidang pemasaran, strategi bisnis, manajemen, dan keuangan. ”Ini pentingnya melakukan pembinaan dan mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan bisnis waralaba,” ujarnya.
Di sisi lain, pelaku waralaba nasional diharapkan mampu memanfaatkan perkembangan digital. Sinergi antara bisnis waralaba dan teknologi akan melahirkan bisnis yang besar.

Asosiasi Franchise Indonesia
(AFI) mencatat, ada lebih dari 200 jaringan waralaba dengan penyerapan tenaga keija lebih dari 5 juta orang. Bisnis ini meningkat 10-15 persen per tahun.

Menurut Andrew, selain peran pemerintah, pelaku juga perlu terus berinovasi untuk menjaga dan mengembangkan pasar. Inovasi antara lain mencakup variasi produk, kemasan, dan pelayanan. Selain inovasi, kemampuan manajemen juga menjadi kunci sukses bisnis waralaba.

AFI menargetkan industri waralaba Indonesia bisa mencapai transaksi Rp 75 triliun pada tahun 2018. Angka ini lebih tinggi ketimbang tahun 2017 yang sekitar Rp 70 triliun. "Waralaba lokal yang menggarap pasar luar negeri bisa dihitung dengan jari,” katanya.

Peran pemerintah
Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemen- terian Perdagangan Tjahya Wi- dayanti mengatakan, pendampingan dilakukan pemerintah untuk mengembangkan industri waralaba dalam negeri, termasuk bekeija sama dengan AFI. ’’Tujuannya agar Indonesia dapat ekspor dari perdagangan jasa, salah satunya dari bisnis waralaba,” kata Tjahya.

Menurut Tjahya, pengembangan bisnis ini tidak mudah sehingga perlu upaya ekstra agar bisnis ini dapat dikembangkan secara global.

Berdasarkan data Kementeri- an Perdagangan 2017, ada 700 jenis waralaba dengan 25.000 gerai di Indonesia. Dari jumlah itu, 63 persen adalah waralaba nasional dan lokal, sementara sisanya asing. Omzet waralaba mencapai Rp 172 triliun per tahun dan diperkirakan naik 10 persen per tahun. Sementara bisnis waralaba menyerap 90.000 tenaga keija (Kompas,22/5/2017)

Sekretaris Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Meliadi Sembiring mengatakan, lebih dari 62 juta UMKM berperan dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, penyebarannya belum merata.

Oleh karena itu, kesenjangan tersebut harus dikurangi. Caranya antara lain dengan mengembangkan koperasi dan UMKM. Waralaba merupakan bisnis yang strategis untuk meningkatkan rasio pengusaha di Indonesia yang saat ini baru mencapai 3,1 persen.

Meliadi menambahkan, waralaba merupakan salah satu cara menumbuhkan wirausaha-wira- usaha baru. Oleh karena itu, pasar industri waralaba perlu diperluas dari sektor dalam negeri ke luar negeri. "Perluasan jenis usaha waralaba juga dapat dilakukan supaya mempercepat pertumbuhan industri ini,” kata Meliadi.

Pameran dan konferensi IFRA 2018 yang menginjak pelaksanaan ke-16 menargetkan transaksi Rp 550 miliar dan 15.000 pengunjung. Tahun lalu, total transaksi mencapai Rp 620 miliar dan pengunjung 14.511 orang. IFRA 2018 menghadirkan 280 merek dari 125 perusahaan dari berbagai bidang dan akan berlangsung hingga 22 Juli 2018.
(E14/CAS)

menu
menu